;
SELAMAT DATANG DI BLOG "INBOXKITA"
Warning !

Showing posts with label International. Show all posts
Showing posts with label International. Show all posts

Tuesday, April 22, 2014

Download Film Indonesia ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia 2014

DOWNLOAD

Tuesday, April 22, 2014

Kami perbarui indormasi dan pengetahuan anda, khususnya perkembangan dunia perfilman tanah air indonesia. dimana dari tahun ke tahun semakin banyak film produksi anak negeri mampu bersaing dikancah perfilman internasional.

Tujuh film Indonesia berkompetisi dalam ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia 2014. Layu Sebelum Berkembang (Die Before Blossom) karya Ariani Djalal dan Masked Monkey: The Evolution of Darwin's Theory karya Ismail Fahmi Lubis bersaing dengan 10 film lain dalam kategori Kompetisi Internasional (International Competition).

Download Film Indonesia ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia 2014
Untuk kategori Film Pendek Asia Tenggara Terbaik (Best SEA Shorts), Indonesia diwakili Flaneurs#3 (Aryo Danusiri), Another Colour TV (Yovista Ahtajida & Dyantini Adeline), Farewell My School/Selamat Tinggal Sekolahku (Ucu Agustin), Children of Kubu/Kubu Terakhir (Benny Sumarna),dan Of the Dancing Leaves/Digdaya Ing Bebaya (BW Purba Negara), bersaing dengan 13 film lain.

Ketujuh film tersebut akan tayang di ChopShots pada 22-27 April di GoetheHaus, Kineforum, TIM XXI, dan Salihara.

Film-film tersebut masuk dalam 58 film terpilih di antara 247 film dari 49 negara yang mendaftar pada 19 September 2013 sampai 10 Januari 2014. "Dari karya-karya yang masuk, kami menemukan keragaman dari segi kualitas, topik yang diangkat, gaya, maupun cerita dalam film-film dokumenter ini.” ujar Direktur Artistik ChopShots 2014 Marc Eberle pada saat konferensi pers.

Para finalis akan memperebutkan hadiah berupa penghargaan dan uang tunai sebesar 5.000 Euro untuk Film Dokumenter Panjang Internasional Terbaik, 3.500 Euro untuk Film Dokumenter Pendek Asia Tenggara Terbaik pertama, dan 1.500 Euro untuk Film Dokumenter Pendek Asia Tenggara Terbaik kedua. Ada pula hadiah sejumlah 500 Euro untuk Film Pilihan Penonton yang dipilih berdasarkan voting penonton selama festival berlangsung.

Film-film dari Kompetisi Internasional akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Nick Deocampo(Filipina), Budi Irawanto (Indonesia), John Badalu (Indonesia), Bettina Braun (Jerman), dan Anna Har (Malaysia). Sedangkan dewan juri untuk Film Pendek Asia Tenggara Terbaik terdiri dari Chalida Uabumrungjit (Thailand), Nguyen Trinh Thi (Vietnam), dan Leonard Retel Helmrich(Belanda).

Edisi kedua festival film dokumenter yang memiliki fokus pada wilayah Asia Tenggara tersebut akan dibuka dengan film Jalanan karya Daniel Ziv pada 22 April 2014 di GoetheHaus. Sedangkan pengumuman pemenang akan berlangsung pada malam penutupan 27 April 2014 di tempat yang sama.

Semoga Mampu Memberikan Yang Terbaik untuk Bangsa Indonesia.

Agung Budianto - 5:46 PM

Wednesday, October 23, 2013

Privacy Policy

DOWNLOAD

Wednesday, October 23, 2013

http://inboxkita.blogspot.com/ takes your privacy seriously. This privacy policy describes what personal information we collect and how we use it.

* Routine Information Collection

All web servers track basic information about their visitors. This information includes, but is not limited to, IP addresses, browser details, timestamps and referring pages. None of this information can personally identify specific visitors to this site. The information is tracked for routine administration and maintenance purposes.

* Cookies and Web Beacons
Where necessary, http://inboxkita.blogspot.com/ uses cookies to store information about a visitor™ preferences and history in order to better serve the visitor and/or present the visitor with customized content.

Advertising partners and other third parties may also use cookies, scripts and/or web beacons to track visitors to our site in order to display advertisements and other useful information. Such tracking is done directly by the third parties through their own servers and is subject to their own privacy policies.

* Controlling Your Privacy
Note that you can change your browser settings to disable cookies if you have privacy concerns. Disabling cookies for all sites is not recommended as it may interfere with your use of some sites. The best option is to disable or enable cookies on a per-site basis. Consult your browser documentation for instructions on how to block cookies and other tracking mechanisms.

* Special Note About Google Advertising
Any advertisements served by Google, Inc., and affiliated companies may be controlled using cookies. These cookies allow Google to display ads based on your visits to this site and other sites that use Google advertising services. Learn how to opt out of Google™s cookie usage. As mentioned above, any tracking done by Google through cookies and other mechanisms is subject to Google™ own privacy policies.

* Contact Information
Concerns or questions about this privacy policy can be directed to Contact Us for further clarification.

Agung Budianto - 7:31 PM

Tuesday, October 15, 2013

Pahlawan di Balik Sukses Indra Sjafri dan Timnas U-19 (Bagian I)

DOWNLOAD

Tuesday, October 15, 2013

Selama ini, mungkin hanya Evan Dimas dan Indra Sjafri yang kita kenal berdiri di balik kesuksesan Garuda Jaya. Padahal, di balik skuat Timnas U-19 ini berdiri sosok-sosok hebat yang dipilih Indra.

"Saya di tim ini tidak lagi bekerja secara tradisional dalam menentukan keputusan. Semua tidak tergantung saya. Ada HPU, mental coach, pelatih fisik, fisioterapis, dokter dan lain-lain. Syukurlah saya didukung orang-orang hebat di tim ini," ungkap Indra beberapa waktu lalu.

Lantas siapa sajakah orang-orang yang dimaksud Indra tersebut. Kami perkenalkan satu persatu dari 11 profil singkat mereka. Jangan heran kalau nanti Anda menemukan metode-metode unik atau bahkan jabatan pertama kalinya di sepak bola Indonesia.

Guntur Cahyo Utomo
Pelatih mental? Hmmm... Terlihat seperti jabatan yang mengada-ada. Namun, kalau melihat kesuksesan Garuda Jaya dengan mental juara dan pantang menyerahnya selama ini, jabatan itu sepertinya penting untuk sebuah klub.

Guntur Cahyo Utomo tak mengelak kalau ia mungkin menjadi pelatih mental pertama di Timnas atau bahkan di sebuah klub. Direkrutnya alumni S2 Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini oleh Indra Sjafri menurutnya karena pelatih mental sangat dibutuhkan oleh sebuah tim.

"Ya kalau saya pikir ini sangat perlu. Karena dalam sepak bola tiga aspek utamanya itu teknik, fisik dan terakhir mental," jelas pemegang lisensi kepelatihan C AFC ini.

Diskusi kecil dengan Indra Sjafri di Yogyakarta sekitar tahun 2011 membuat keduanya merasa satu visi. Sang pelatih menilai butuh seorang psikiater sepak bola untuk menyiapkan mental Ravi Murdianto dkk. "Kembali seperti yang saya sebutkan tadi, jabatan saya berdasarkan kebutuhan," tegasnya.

"Sering kita tahu pelatih dalam jumpa persnya setelah pertandingan mengeluh mental turun, kalah mental, tak punya mental juara dll. Faktanya itu hanya menjadi keluhan dan tidak ada tindak lanjutnya. Ya kalau saya dan coach Indra menginspirasi pelatih mental lain di Indonesia, malah Alhamdulillaah," urai Guntur.

Tempaan mental Guntur ternyata cukup berhasil. Laga penentuan melawan Korea Selatan (Korsel) kemarin hanyalah sekadar bukti kecil. Sebelumnya, laga penentuan dan sarat gengsi melawan Malaysia hingga laga final yang diteruskan adu penalti di Piala AFF lalu menjadi bukti-bukti lain senyuman hingga teriakan pemuda yang 19 September lalu tepat berusia 33 tahun ini.

Jadi, bagaimana klub-klub di Indonesia? Perlukah pelatih mental? 


Muhni
Sebelum berlanjut ke jabatan-jabatan unik macam Guntur di halaman sebelumnya, ada baiknya kita perkenalkan kitman Timnas U-19. Memang terlihat jabatan tukang angkut perlengkapan ini sepele. Namun, miss sedikit, rusaklah skema Timnas.

"Pernah kejadian di Hongkong. Saya lupa bawa ban kapten dan kebetulan panitia juga tidak menyediakan. Waktu itu kita akhirnya seri dan gagal menang. Saya disindir coach Indra karena anak-anak bermain seperti tanpa seorang pemimpin," cerita Muhni.

Sejak saat itu lah Muhni lebih berhati-hati dalam menyiapkan segala peralatan Timnas U-19 saat latihan atau sebelum pertandingan. "itu tadi baru ban kapten. Kaus kaki kurang, pemain bisa-bisa batal bermain, Mas," ujar pria yang mengaku tak memiliki nama panjang tersebut.

Kitman kelahiran Tegal 13 Februari ini bukanlah orang baru di tubuh Timnas. Sebelumnya ia merupakan kitman dari Timnas Senior dan diperbantukan ke Timnas U-19 sejak di HKFA Hongkong 2013 lalu. "Saya sih siap ditempatkan di tim mana saja oleh PSSI, tapi suasana kekeluargaan di tim ini yang saya suka," katanya.

"Pemain tak mau membeda-bedakan mana kitman mana dokter. Apalagi coach Indra, kita selalu diajak makan semeja. Padahal ibarat rumah tangga, saya hanyalah pembantu," tutup Muhni sambil tertawa.

Ade Ali
 Petugas perlengkapan satu ini lebih kalem ketimbang rekannya, Muhni. Ketika didekati Bola.net, kitman bernama Ade Ali ini ternyata memang pemalu dan tak banyak bicara.

"Kok saya yang diwawancarai, Mas?" buka pria kelahiran Cirebon 30 Juni 1982. Namun, meski begitu, Ade masih bersedia menuturkan pengalamannya bersama Timnas U-19.

Menurutnya, ia bergabung dengan Indra Sjafri saat persiapan Piala AFF U-19 lalu, tapi pertemuannya dengan sang pelatih sudah terhitung lama, yakni saat tim Divisi III (U-19) tempat ia bekerja sebelumnya, Bina Putera Cirebon, ikut dipantau Indra Sjafri yang tengah berburu pemain tahun lalu.

Ade sendiri mengaku tak tahu menahu alasan Indra mengajaknya bergabung Timnas U-19. Namun, melihat perilaku Ade yang lebih banyak kerja ketimbang bicara, sepertinya hal itu yang menjadi alasan.

"Wah saya ndak tahu kalau itu. Diajak ke Timnas aja saya sudah senang. Apalagi, kemudian kami juara," tutupnya kalem.

Agung Budianto - 8:10 PM

Tuesday, August 20, 2013

Indonesia may release Australian drug convict

DOWNLOAD

Tuesday, August 20, 2013

Schapelle Corby: In this March 11, 2008 file photo, Schapelle Corby, an Australian drug smuggling convict, talks to reporters at Kerobokan prison, Bali, Indonesia. (AP/Firdia Lisnawati)Indonesia may release Australian drug convict

An Australian convicted of drug smuggling in Indonesia should go free before the end of this year after a correctional board approved her parole and reduced her sentence, officials said Saturday.

The parole recommendation was handed to prison officials Friday and Schapelle Corby could be released from her cell in Kerobokan jail soon after all legal process and supporting documents are completed, said Bali's corrections board chief Ketut Artha.

Corby, 35, was convicted in May 2005 of smuggling 9 pounds (4.2 kilograms) of marijuana onto the resort island of Bali and sentenced to 20 years in prison. In 2010, she asked for clemency, citing her poor mental state and last year, Indonesia's president reduced her sentence by five years. It means, she has served two thirds of her sentence and was eligible for parole late last year.

But complicated bureaucracy and legal processes have been hampering her parole bid, Artha said. He expected Corby to be released before the end of this year to live with her sister in Bali.

Her case drew intense interest in Australia, where many people believe she is innocent.

"Corby has showed her good behavior while in prison, and villagers and local village officials are willing to accept her," Artha told reporters in Bali on the board's consideration over the parole, "Her family in Bali is ready to guarantee her presence."

He said corrections officers visited the home of Corby's sister last Tuesday to assess whether it would be a suitable supporting place for her to live.

Corby was among 67,349 prisoners across Indonesia whose jail terms were reduced to mark Independence Day, which fell ib Saturday. Of those, 2,197 were freed.

For this time alone, Corby had her sentence slashed by 6 months.

Another drug convict, Renee Lawrence, also 35, who is serving 20 years in Bali, had her sentence slashed by 6 months. She is one of nine Australians found guilty in April 2005 of attempting to smuggle 8.3 kilograms (18.3 pounds) of heroin. Six were sentenced to death and two others were given life imprisonment.

Eleven other foreign inmates there also had their sentence slashed, including two Britons each by 2 months.

Agung Budianto - 3:49 PM

DROWSSAP